“THE FIRST SIN IN THE CHURCH WAS A FINANCIALCRIME”

12 09 2008

‘THE FIRST SIN IN THE CHURCH WAS A FINANCIALCRIME’

Mengesankan dan membanggakan. Kemeriahan dan kekhusukan. Dan penuh makna. Ungkapan tersebut saya yakin dirasakan oleh setiap orang yang mengikuti Kongres Ekaristi Keuskupan (KEK): Berbagi Lima Roti dan Dua Ikan.

Jumlah pengikut yang lebih dari 600 orang yang terdiri dari orang dewasa, kaum muda dan anak-anak terasa begitu semaraknya ketika acara bersama dalam Perayaan Ekaristi, Perarakan Sakramen Mahakudus dari Gereja Ambarawa ke Gua Maria Kerep dan malam Panggung kreasi Kaum Muda, Remaja, dan Anak-anak. Perarakan Sakramen Mahakudus sangat khusuk dan menggetarkan hati dengan terdengarnya doa-doa dan puji-pujian sepanjang jalan. Perarakan tersebut tampaknya juga menarik perhatian para pengguna jalan yang lewat dengan kendaraan bermotornya. Malam Kreasi Kaum Muda, Remaja, dan Anak-Anak semakin meriah dengan kehadiran artis Nugie.

KEK itu juga penuh makna dengan ajakan berbagi demi peningkatan kesejahteraan dan keadilan mengingat situasi masyarakat yang dapat dikatakan sebagian sungguh beruntung dan sebagian yang lain kurang beruntung. Salah satu peserta remaja dari paroki saya (St.Maria Fatima Magelang) dalam pertemuan dengan Pengurus Harian Dewan Paroki mengemukakan pengalamannya yang sangat terkesan dalam mengikuti KEK, berbeda dengan berbagai kegiatan rohani lain yang pernah diikuti, bahkan dia mengatakan sangat bersedia jika diminta mengikuti KEK lagi jika ada.

Hal lain yang sangat menarik bagi saya adalah salah satu artikel tulisan Rm. Indra Sanjaya. Dalam artikel tersebut dikemukakan mengenai “The first sin in the Church was a financial crime”. Kalau saya terjemahkan (semoga saya tidak salah menerjemahkan) arti dari “The first sin in the Church was a financial crime” adalah “dosa pertama dalam gereja adalah kejahatan keuangan”. Pendapat Rm. Indra tersebut ditelaah dari teks Kis 5:1-11. Diceritakan dalam teks tersebut bahwa Ananias dan Safira menjual sebidang tanah. Uang hasil penjualan tanah itu seperti yang dilakukan para anggota Gereja Perdana lainnya, diletakkan di depan kaki para rasul untuk dibagikan kepada semua orang sesuai keperluannya. Namun, sepengetahuan istrinya, Ananias menahan (menyimpan) sebagian uangnya, artinya tidak meletakkan seluruh hasil penjualan tanahnya di depan kaki para rasul.

Perbuatan Ananias dan Safira ini menimbulkan malapetaka bagi mereka berdua, yaitu tewas seketika. Dikatakatan, dosa Ananias dan Safira bukan semata-mata karena menahan sebagian uang hasil penjualan tanahnya, tetapi karena “mendustai Allah”. Ananias dan Safira telah melanggar apa yang menjadi komitmen pribadinya terhadap komunitas. Segala sesuatu yang dilakukan bagi komunitas tanpa suatu paksaan, tetapi kemauan dan komitmen pribadi. Dosa Ananias adalah tidak adanya komitmen terhadap komunitas yang dilandasi oleh kesungguhan sehingga yang terjadi adalah pengkhianatan terhadap komunitas. Peristiwa Ananias dan Safira itulah yang akhirnya ditarik sebuah kesimpulan “The first sin in the Church was a financial crime”.

Dalam kesempatan itu, Rm.Indra Sanjaya juga mengemukakan sebuah rerasanan dari seorang umat yang mengatakan “wong sugih kok dadi bendahara paroki”. Rm. Indra tidak menjelaskan lebih lanjut maksud rerasanan itu, ia hanya mengatakan, “ Ada maksud apa dibalik kata-kata tersebut”.

Kalau saya perhatikan dari cerita-cerita para Romo dan umat, “the first sin in the Church was a financial crime” hampir me-“legenda”. Memang cerita-cerita itu ada yang masih perlu dibuktikan, masih merupakan indikasi, tetapi juga tidak sedikit yang sungguh-sungguh terjadi.

Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana mencegah agar tidak jatuh korban terus-menerus? Memang Gereja memberi “solusi” yang amat ampuh tehadap dosa tersebut yaitu “sakramen pengampuan dosa”. Namun, “ solusi” ini dapat dikatakan bersifat kuratif. Adakah solusi yang bersifat preventif?

Pada tanggal 26 Mei sampai dengan 7 Juni 2008 yang lalu, saya bersama dengan Rm. Fitri Gutanto, Rm. Widya Raharjo,MSF, beberapa karyawan Keuskupan, dan para Dosen Akuntansi Universitas Sanata Dharma mengikuti kursus Internal Audit tingkat Matrikulasi di Universitas Sanata Dharma.

Inti dari seluruh materi kursus Matrikulasi tersebut adalah bagaimana sebuah proses dan kegiatan suatu organisasi memiliki control yang disebut dengan istilah ‘pengendalian intern’. Pengendalian intern terdiri dari rencana organisasi dan prosedur-prosedur serta catatan-catatan yang berhubungan dengan pengamanan aktiva (harta benda) dan dapat dipercayanya catatan-catatan keuangan. Semua itu untuk memberikan jaminan bahwa (bdk. Pengantar PDDP KAS):

  • Transaksi-transaksi dilaksanakan sesuai dengan otorisasi dari menejemen.
  • Transaksi-transaksi telah dicatat, yaitu untuk (1) memungkinkan penyusunan laporan keuangan yang sesuai dengan prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum atau kriteria lain yang perlu untuk laporan-laporan tersebut dan (2) menunjukkan pertanggungjawaban atas aktiva.
  • Aktiva hanya dapat digunakan berdasarkan otorisasi menejemen.
  • Tanggungjawab aktiva menurut catatan dibandingkan dengan aktiva yang ada pada suatu periode waktu tertentu dan untuk setiap perbedaan-perbedaan yang terjadi maka akan diambil tindakan yang seperlunya.

Financial crime terjadi pada umumnya karena lemahnya ‘pengendalian intern’. Terlebih saat ini Romo di paroki tidak boleh menjadi kasir (tidak boleh mengelola sendiri keuangan paroki), tanpa ‘pengendalian intern’ yang memadai maka resiko bidang keuangan sangat besar.

Salah satu usaha yang dkembangkan oleh Keuskupan dalam bidang pengendalian intern dalam bidang keuangan adalah:

  • Pemisahan fungsi keuangan: kasir (menerima dan membayar) dengan yang mencatat dalam pembukuan dan yang membuat laporannya (operator).
  • Diperlukannya otorisasi yang berhak menyetujui pengeluaran dalam jumlah tertentu.
  • Dibutuhkan catatan-catatan keuangan dan bukti-bukti (kwitansi) yang memadai.
  • Dibutuhkan laporan-laporan pemanfaatan dana dengan bukti-bukti yang memadai.
  • Adanya control terhadap kebenaran catatan-catatan keuangan dan keberadaan asset.
  • Penyimpanan asset (misalnya: uang) dengan aman (brankas, kamar terkunci, atau bank).
  • dan lain-lain.

‘Pengendalian intern’ yang baik akan menjamin harta Gereja “secured” (aman), ekonomis, efisien dan bermanfaat sesuai tujuan.

Dengan ‘pengendalian intern’, maka tujuan KEK yaitu berbagi Lima Roti dan Dua Ikan akan semakin membuat orang untuk suka rela berbagi melalui saluran Gereja karena memperoleh jaminan bahwa bahwa apa yang dibagikan akan sungguh-sungguh bermanfaat bagi yang memerlukan. Jangan sampai orang rela berbagi tetapi yang lain juga dengan suka rela ‘melestarikan’ ‘the first sin in the Church is financial crime’, karena ada kesempatan. Ingat pesan Bang Napi: “Kejahatan bukan saja karena niat dari si pelaku tetapi juga karena ada kesempatan”.***



Site Meter


Aksi

Information

2 responses

20 09 2008
Yusuf

Gereja pun ternyata tidak lepas dari korupsi.

21 09 2008
spiritualitasmnjm

Kesadaran akan kenyataan tersebut tentu perlu disikapi dengan berbagai cara agar mampu meminimalisir kasus-kasus berkaitan dengan keuangan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: